BOSTON, KAREBA – Kapten timnas Skotlandia, Andy Robertson, mencuri perhatian di laga pembuka World Cup 2026 pada 14 Juni lalu dengan penemuan “hack” cerdik terhadap aturan lempar bentang FIFA 5 detik. Dalam pertandingan melawan Haiti di Gillette Stadium, dekat Boston, Amerika Serikat, Robertson secara sengaja menempatkan bola di tanah sebelum mengambilnya, memberikan dirinya waktu lebih untuk mengatur rekan setim tanpa memicu hitungan mundur 5 detik yang ketat, sekaligus mengakali aturan lempar bentang FIFA.
Strategi cerdik Andy Robertson ini terungkap saat Skotlandia memperoleh lempar bentang. Alih-alih langsung mengambil bola, pemain yang baru saja bergabung dengan Tottenham Hotspur ini menempatkan bola di tanah, menunggu rekan setimnya menempati posisi strategis. Barulah setelah itu, Robertson mengambil bola, memicu hitungan mundur lima detik yang ditetapkan oleh aturan baru. Metode ini efektif memberikan waktu tambahan bagi Skotlandia untuk mempersiapkan serangan, sekaligus menunjukkan bagaimana ia memahami celah aturan lempar bentang FIFA.
Insiden ini terjadi dalam kemenangan tipis Skotlandia 1-0 atas Haiti di babak pertama Grup C World Cup 2026. Gol tunggal Skotlandia dicetak oleh John McGinn menjelang menit ke-30 pertandingan. Kemenangan ini sangat vital, menempatkan Skotlandia di puncak Grup C dan menandai kemenangan pertama mereka di ajang World Cup dalam 36 tahun terakhir, serta penampilan perdana sejak 1998.
“Perasaan yang luar biasa. Para pemain mewujudkan impian mereka hari ini,” kata Andy Robertson, kepada BBC Scotland setelah pertandingan. “Itu adalah hari yang panjang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan para penggemar di rumah yang terjaga sampai larut malam. Bisa melangkah ke lapangan dan menyanyikan lagu kebangsaan bersama, itu sangat istimewa. Kemudian menindaklanjutinya dengan kemenangan, rasanya tidak bisa lebih baik dari itu.”
Aturan baru ini, yang disahkan oleh International Football Association Board (IFAB) pada 28 Februari 2026, memang dirancang untuk mempercepat laju pertandingan dan mencegah penguluran waktu. Selain aturan lempar bentang FIFA 5 detik, IFAB juga menerapkan hitungan mundur 5 detik untuk tendang gawang, serta aturan 10 detik untuk pergantian pemain dan 1 menit untuk perawatan medis di lapangan.
Menurut regulasi, hitungan mundur 5 detik untuk lempar bentang baru dimulai saat pemain MENGAMBIL bola di tangan. Dengan meletakkan bola di tanah terlebih dahulu, Robertson secara sah menunda dimulainya hitungan mundur. “Dapatkan rekan satu tim Anda di posisi sebelum Anda mengambil bola, yang akan memulai hitungan mundur wasit,” analisis seorang penggemar di media sosial, menunjukkan pemahaman publik terhadap celah aturan lempar bentang FIFA ini.
Strategi Robertson ini dengan cepat memicu perdebatan di kalangan penggemar dan media, banyak yang menganggapnya sebagai “loophole” yang cerdik namun tidak melanggar regulasi. Berbagai media, termasuk Thairath dan Sporting News, melaporkan “hack” ini sebagai taktik brilian yang dieksploitasi kapten Skotlandia. Tidak ada peringatan atau pelanggaran dari wasit terhadap tindakan Robertson, menegaskan bahwa strateginya berada dalam batas aturan lempar bentang FIFA yang baru.
Menariknya, Robertson juga baru-baru ini menyelesaikan transfer dari Liverpool ke Tottenham Hotspur setelah kontraknya berakhir. Kepindahan ke klub baru ini tidak menyurutkan performa kepemimpinannya di timnas, justru ia menunjukkan kecerdasan taktis yang luar biasa di panggung terbesar sepak bola dunia.
Kemenangan perdana dan strategi brilian Robertson ini sangat krusial bagi Skotlandia untuk melaju ke babak gugur. Dengan tim lain di Grup C, seperti Maroko dan Brasil, masih akan bertanding, poin penuh dari laga melawan Haiti memberikan modal berharga bagi tim asuhan Steve Clarke. Kecerdikan Robertson dalam memanfaatkan aturan lempar bentang FIFA ini bisa menjadi kunci penting dalam perjalanan mereka di World Cup 2026.




