SWISS, HAWA – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah menjadi sorotan tajam setelah rencana menggelar pertandingan perdana festival sepak bola U15 antara Israel dan Palestina pada September 2026 di Amerika Serikat bocor ke publik. Rencana ini FIFA dikritik grotesk oleh banyak pihak, termasuk penggemar dan organisasi anak-anak, karena dianggap tidak sensitif dan eksploitatif di tengah konflik berkepanjangan.
Rencana yang diajukan di bawah kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino tersebut memicu kemarahan luas. Publik menilai penggunaan anak-anak di bawah 15 tahun sebagai instrumen normalisasi dan perdamaian di tengah konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama 23 bulan adalah tindakan yang tidak peka. Kritik pedas menyebut FIFA telah “terpisah dari realitas” atau divorced from reality.
Organisasi Save the Children dalam laporannya pada September 2025 mengungkapkan, lebih dari 20.000 anak Palestina tewas di Gaza. Data tersebut menunjukkan rata-rata satu anak tewas setiap jam oleh pasukan Israel di Gaza selama hampir 23 bulan perang. Kondisi ini membuat rencana pertandingan tersebut semakin terasa “grotesk” dan tidak etis.
FIFA sendiri, melalui Presiden Infantino, menyatakan niat untuk menggunakan sepak bola sebagai instrumen promosi normalisasi dan perdamaian. Niat ini diamini oleh Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).
“Presiden FA kami, Moshe Zuares, akan tetap pada apa yang telah ia katakan beberapa kali secara publik di kongres FIFA dan di mana saja — kami lebih dari sebelumnya bersedia menggunakan sepak bola sebagai instrumen untuk mempromosikan normalisasi dan perdamaian. Tangan kami selalu terulur untuk masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Kami berharap menemukan mitra yang berani di sisi lain,” kata juru bicara Asosiasi Sepak Bola Israel.
Namun, reaksi dari penggemar dan publik di media sosial sangatlah negatif. Mereka mengkritik keras langkah FIFA ini. Sejumlah warganet melontarkan komentar bernada sarkastis dan kemarahan.
“Sulit membayangkan tanggapan terhadap ini yang tidak dipenuhi amarah. Infantino pasti kombinasi dari bodoh, dungu, jahat, atau ketiganya,” tulis seorang penggemar di media sosial.
“Ini grotesk untuk disarankan!” ujar penggemar lainnya.
“Hei Palestina, bermainlah melawan negara yang membunuh keluargamu dan mencuri tanahmu. Maksudku, lakukan itu untuk hiburan kami,” komentar sarkastis seorang warganet.
Rencana FIFA dikritik grotesk ini muncul setelah Infantino sebelumnya gagal mengorkestrasi jabat tangan antara delegasi Palestina dan Israel pada kongres FIFA Mei 2026. Ini menambah daftar panjang isu politik yang membayangi persiapan turnamen besar FIFA, termasuk Piala Dunia 2026.
Beberapa kasus yang mencuat termasuk penolakan visa terhadap wasit Somalia Omar Artan di AS, penahanan striker Irak Aymen Hussein selama tujuh jam di bandara O’Hare Chicago, serta kesulitan visa bagi tim dan penggemar Iran akibat konflik dengan AS. Hubungan dekat Infantino dengan Donald Trump, yang kebijakan imigrasinya mempersulit beberapa kasus tersebut, juga menjadi sorotan.
Kritik publik menunjukkan bahwa FIFA, di bawah kepemimpinan Infantino, dianggap mengabaikan realitas konflik yang parah dan berusaha “memeras uang” dari situasi tragis. Banyak yang menyerukan agar Infantino dicopot dari jabatannya.




